50 Komentar

2 Sisi Dalam 1 Cerita

Setiap pribadi tentu ingin berkembang, dan mampu mengatasi permasalahan dalam hidupnya layaknya memecahkan teka-teki kehidupan, begitu pula saya,,, yang sampai saat ini memiliki sejuta “tanda tanya” tentang berbagai hal, mulai dari yang ringan hingga kompleks, dari yang biasa-biasa saja hingga luar biasa.

Kehidupan, merupakan sebuah proses pembelajaran, pendidikan, pembaruan, akan sebuah jati diri seorang manusia dalam memahami dirinya dan dunianya, begitu yang pernah saya dengar. Saya setuju pendapat tersebut, karena bukankah sebagai manusia dan umat beragama kita diharuskan untuk melakukan perbaikan demi perbaikan dalam setiap harinya?? Walau hanya 1%, atau bahkan 0,1%?? Ya tentunya seberapa pun presentasenya, setiap manusia hendaknya melakukan sebuah perbaikan dalam hidupnya.

Berawal dari alasan tersebut, dalam suasana saat orang-orang “merayakan” maulid Nabi Muhammad S.A.W, saya lebih memilih untuk hening, berdiam diri, merenung, meditasi, atau apa pun namanya sesuai keyakinan masing-masing alih-alih mengikuti “ceremony” maulid nabi. Walau memang tidak ada salahnya mengikuti perayaan tersebut, :-)

Seperti biasa, saat menikmati proses relaksasi pikiran, dalam heningnya malam, saat masuk ke dalam diri (alpha), muncul saja suara-suara yang akhirnya menarik perhatian saya, dan memunculkan pertanyaan dalam benak saya “Mengapa mereka meributkan sesuatu?” . Saya garisbawahi sebelumnya, “mereka” yang saya maksud adalah siapa pun yang terlibat diskusi, dialog.. dan “sesuatu” maksudnya tentang topik yang mereka bahas. Nah, rasanya tidak adil dan bahkan mungkin disebut pecundang jika kita HANYA bisa mengumpat, tanpa mencari solusi, minimal memahami apa yang terjadi sajalah, that’s enough, :-)

Lalu saya teringat nasehat Guru Virtual saya Dr. Ibrahim Elfiky, dalam bukunya “terapi berpikir positif”, beliau mengajarkan jika kita berada dalam situasi yang kurang/tidak memberdayakan, seperti saat putus asa, marah, bingung, dan galau, dsb.. Tanyakan saja sebuah pertanyaan “AJAIB” berikut ini pada diri Sobat,

“Apakah persisnya yang Rasulullah lakukan jika mengalami kondisi seperti saya?”

Terkejut dengan sensasinya…?? Itu pasti karena tandanya Sobat mampu meresponnya dengan baik untuk kemudian mencari jawabannya.

Oh iya, sebelum saya lanjut, adakah yang bertanya,

“Mengapa Rasulullah…??” Karena saya ingin sekali bisa meneladani/mencontoh beliau, atau dalam istilah NLP disebut Modelling (mencontoh, bukan modelling yang berjalan di catwalk, he… he.. :mrgreen: ). Bagi saya beliau adalah sosok yang tepat sebagai panutan, motivator, inspirator. Sudah tidak perlu diragukan lagi bagaimana SEJARAH BAIK beliau dalam perjalanan hidupnya, :-) . Sobat dapat menggantinya sesuai Tokoh yang dikagumi jika kurang sepaham dengan saya.

Lanjut ke topik, jadi sampai di sini saya punya 1 pertanyaan dengan 1 jawaban berupa pertanyaan yang belum menjawab pertanyaan awal, paham…?? he,, he,, :mrgreen:

Begini, pertanyaan awalnya adalah,

“Mengapa mereka meributkan sesuatu?” *untuk bloking emosi negatifnya, maka tanyakan pada diri kita,

“Apakah persisnya yang Rasulullah lakukan jika mengalami kondisi seperti saya?”

Baik, singkat cerita, dalam heningnya malam saat merenung mencari jawaban dengan tetap mempertahankan state Alpha, maka saya dapatkan jawaban “sementara” (karena pasti bisa berubah seiring proses pendewasaan kita),

Ya, ternyata hanya itu jawabannya, simple namun penuh makna pembelajaran bagi saya. Inilah yang bila tidak di sadari dapat berujung pada debat kusir, seperti pukul-pukulan saat sidang kabinet di negara ‘X’, atau debat tentang bola karena merasa tersinggung clubnya dilecehkan, dan banyak kasus lainnya, :-P

Kemarin pun saya sempat berbincang dengan ilmii via telepati, ha.. ha.. tentang IP, yang mungkin bisa jadi contoh ringan saja. Menurutnya IP 2,sekian dalam bidang FISIKA itu sudah bagus, penuh perjuangan sampai harus jungkir balik katanya, he.. he.. Namun beda lagi menurut persepsi saya, dalam bidang Informatika yang saat ini saya tekuni, IP 2,sekian itu sangaaat kurang, tanpa bermaksud mengurangi rasa bersyukur. Dari obrolan ringan saja, bila kita salah menanggapi, bisa berujung pada debaaat panjang, untung saja ilmii tidak melempar saya dengan sekarung uang logam, ha.. ha.. *just kidding, :lol:

Contoh lain, masih ingat orang ini…??

Ya si penabrak maut yang menewaskan 9 nyawa, jika kita memilih cerita dari “kacamata” korban, tentu saja yang muncul adalah rasa MARAH, TIDAK TERIMA, dan bahkan ingin MEMBUNUH balik si pelaku, memang sangat manusiawi sekali, bahkan itulah respon yang harus dimunculkan, siapa sih yang rela kehilangan keluarga karena narkoba?? Mending mati syahid di medan perang, :-) *Ini bila dilihat dari sudut pandang “kacamata” korban atau media.

Namun bisa jadi ada cerita/pandangan lain, seperti yang diungkapkan Presiden Jancukers Sujiwo Tejo dalam ILC, dalam konteks lain, menurutnya dia sekalipun tidak pernah mengecam Afriyani karena Afriyani tidak bersalah karena mengemudi dengan kondisi “Fly/tak sadar” karena pengaruh narkoba, JIKA dibandingkan dengan KORUPTOR yang dengan SADAR membunuh ratusan bahkan ribuan nyawa secara tak langsung, salahkah…?? Tidak, karena memang melihat dari Konteks Perbandingan dengan  koruptor. *Dilihat dari “kacamata” berbeda.

Begitulah, dalam sebuah Cerita pun selalu ada 2 sisi yang berseberangan. Mungkin inilah alasan Tuhan memberi kita 2 mata, untuk melihat “2 sisi” itu… 2 telinga, untuk mendengar terlebih dahulu “2 sisi” itu, sebelum akhirnya menjadi sebuah ucapan dan tindakan yang sekali lagi bisa menjerumuskan bila salah merespon.

Bersyukurlah dengan menggunakan indrawi kita dengan sebaik-baiknya, karena tidak terbayang kalau ilmii, fiqih, Efinda, atau perempuan lain memiliki 1 mata, 3 mata, 4, 5, dan seterusnya… Mungkinkah mereka tetap terlihat cantik/manis…?? atau Falzart, Ahmad, Bli Tunsa dan pria mana pun, akankah tetap terlihat gagah dan tampan dengan mata yang selain 2…?? 2 mata saja susah dijaga, apalagi lebih banyak ya?? ha.. ha.. ha… *sekedar intermezo, :lol:

Masih mau debat…?? Ingatlah, SELALU ADA 2 SISI DALAM SEBUAH CERITA, selanjutnya terserah Anda, :wink:

Sebelum menutup posting ini, saya ingin menyampaikan,

Turut Berduka Cita atas Meninggalnya Safira, (Murid) saya.
Semoga Diterima di Sisi-NYA, Amiiiinn… 

Terima Kasih, sudah membaca tulisan yang panjang ini, Saya tidak bermaksud menggurui hanya sebatas berbagi, berbagi, dan berbagi… Kesempurnaan tetap milik ALLAH,  :-D

Gandi R. Fauzi
Renungan menjelang Maulid Nabi – @Bengkel Tingkah Laku

Sumber Gambar : Afriyani > Nandobase

Navigasi komentar

Komentar lebih baru →

50 comments on “2 Sisi Dalam 1 Cerita

  1. saya kok berpandangan lain ya.. menurut saya tdk hanya ada dua sisi dlm satu cerita. tdk hanya ada hitam dlm satu putih, tp banyak warna. dunia ini tdk hanya dihuni oleh org baik dan org jahat. memang Tuhan mnciptakan segalanya berpasangan, tp masih banyak hal yg sebenarnya ‘ada’ selain ‘pasangan’ yg tercipta.

    intinya yah, (bagi saya) spertinya lebih baik tdk membiasakan diri menyederhanakan sesuatu dgn membaginya mnjadi dua variabel, dgn mngabaikan variabel2 lainnya yg ‘dianggap’ tdk terlalu penting.

    maaf ya, jd kebablasan ngoceh, semoga saya tdk menyakiti siapapun :)

    • Hehehe, menyakiti siapa…?? Disini tempat bebas berkomentar, dihargai, dan tidak salah… :-D

      Hmmm,, persisnya sepenting apa variabel yang lain itu…?? Mungkin bukan ‘mengabaikan’ septi, tapi menyederhanakan, orang-orang sering bingung bahkan debat hanya karena 2 sisi itu, apalagi banyak sisi…??

      Kalau orang macam Septi, saya yakin bisa memahami banyak variabel… :-D

Navigasi komentar

Komentar lebih baru →

Budayakan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s